kepergian

seiring berjalannya waktu, pergi dan meninggalkan barangkali adalah sekadar soal urutan acak yang tak tentu, siapa yang lebih dahulu, siapa yang akan hidup lebih lama dengan mengenggam rasa rindu.

kawan, pada dasarnya pertemuan dan perpisahan adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan, sebagaimana jika kita berjalan, pasti akan ada jejak yang ditinggalkan.

hari ini, salah seorang sahabat dekat memberikan kabar, Ayahnya meninggal tepat pukul 10.50 malam kemarin.

kamu tahu, dia anak yang begitu baik, anak terakhir dari tiga bersaudara, namun selalu sukses memimpin dan mengatur berbagai hal dalam keluarganya. sehari-hari menjaga toko yang masih satu atap dengan rumahnya, mengatur beberapa karyawan dan hafal dengan mudah seluruh pelanggan beserta alamat pengirimannya. rela meninggalkan dunia daki-mendaki gunung kala orangtuanya kurang berkenan, rela mengambil kuliah malam saat di jam yang sama kebanyakan anak seusianya justru sedang asik mencari tempat makan bersama teman, bercanda dengan gaya khas anak Jakarta padahal asli dan lahir di tanah Jawa.

sakitnya memang sudah sedari lama, beberapa kali sempat bermain bahkan menginap, cerita tentang kondisi Ayahnya sempat tersisip satu-dua, meskipun begitu, dia selalu pandai bertutur kata dengan ceria, satu keunggulan yang barangkali hanya dimiliki segelintir dari kita.

pagi tadi, sepagi yang kubisa, aku datang dengan penuh tanya, meski sudah beberapa kali hadir dalam prosesi semacam ini, kepergian orang tercinta dari sahabat dekat bukan satu hal yang aku akrab dan mampu menghadapinya.

setidaknya aku hadir untuk menghibur..

sesederhana itu yang kupikirkan.

maka pertemuan awal itu terjadi juga dengan sederhana.

berpelukan. respon pertama justru ucapan terima kasih dari dia. respon yang sukses membuat kehilangan beberapa kata,

tidak kawan, barangkali hanya ini yang baru bisa aku berikan, sekadar kehadiran.

pada akhirnya hanya,

“yang tabah ya, insya Allah ini yang terbaik bagi semua..”

“iya.. terima kasih, eh udah sarapan?”

dan lagi-lagi dia justru yang mampu memecahkan suasana dengan cepat.

***

siang sekitar pukul sepuluh, Masjid ramai,

“…pembina Masjid kita.. yang setia dari tahun ke tahun membimbing dan mengarahkan..  mengembangkan dan mencurahkan dengan penuh keikhlasan..”

sepotong sambutan dari pengurus Masjid sukses membuat suasana semakin haru, aku yang sebetulnya tidak mengenal terlalu jauh juga terhanyut oleh suasana itu.

kalau nanti aku meninggal, akan di kenang seperti aku kelak?

***

dia hampir mengurus segala prosesnya, menjadi yang ditanya orang tentang letak posisi tenda, pengiriman ambulance, fotokopi surat dan urusann administrasi, bahkan aku pun turut sedikit membantu memasukkan beberapa lembaran uang ke dalam amplop,

“budaya disini emang gitu Up, udah ikutin aja, pendatang mah hargain adat setempat aja..”

lokasi pemakaman cukup dekat, tempat yang disekelilingnya sudah berdiri dengan gagah gedung-gedung strategis daerah Mega Kuningan.

dia sendiri yang turun ke liang lahat, mengatur posisi Ayahanda, mengambil beberapa genggaman tanah untuk mengganjal posisi-posisi tertentu sesuai arahan dari beberapa orang dari atas kuburan.

sungguh, betapa tangguh anak ini.

dan momen itu,

dengan lirih adzan dan iqamah dikumandangkan oleh dia,

suara lirih yang dihiasi beberapa air mata,

momen dimana kembali mengingat bahwa sejatinya hidup kita begitu singkat,

kita hanya diminta berjalan, bersusah payah di antara jeda adzan dan iqamah.

***

“angkatan ini masih akan menjalani berbagai momen kehidupan, insya Allah, masih panjang jalan kita bersama.  beberapa waktu lagi, ada yang akan segera lulus menjadi sarjana, lalu nanti beramai-ramai jadi para pencari kerja, lalu beberapa akan susul-menyusul mengirimkan undangan, bersama pasangan membentuk keluarga idaman, nanti kita akan sama-sama cemas saat kelahiran anak pertama, bahagia mendengar tangis pertama anak kita, kita akan berjuang mencari penghasilan demi cicilan rumah, kendaraan, serta pendidikan dan segala pernak-pernik khas keluarga, nanti kita insya Allah masih akan reunian, tukar cerita, saling sharing mulai dari susu yang cocok bagi anak sampai mungkin rencana naik haji dan mimpi-mimpi lain yang juga cukup tinggi, dan kelak, pada saatnya, satu persatu dari kita akan pergi, berpamitan dengan cara kita masing-masing.  ingat kawan, tagline sederhana angkatan kita, ‘tiga tahun kita bersama, selamanya kita bersaudara’, adalah janji yang akan kita bawa, dan ingatlah bahwa hakikatnya kita harus saling menguatkan, berjuang hingga kelak kembali bersama dapat menyelenggarakan kembali reuni di SurgaNya”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s