Dibawah Langit Asrama

12716148_160044287709842_8854761243432167203_o

Awan tak pernah berharap akan berubah menjadi tetesan, sebab bersama-sama dilangit baginya terasa begitu menyenangkan.

 

Menghabiskan tiga tahun pertama di pedalaman hutan Cinangka lalu singkat cerita ternyata berlanjut menjadi enam tahun, dan pada akhirnya menghabiskan kembali dua tahun dengan judul besar yang sama, asrama.

SMP-SMA di asrama Nurul Fikri, Serang, sebuah sekolah asrama yang jauh dari hiruk-pikuk kota, pagi bermandikan sinar mentari, tanpa polusi, tanpa bising peluit pak polisi.

Lepas SMA, masuk dalam rumah besar Universitas Indonesia, kembali dipertemukan dengan berbagai kesempatan dan pesona khas dunia mahasiswa, dinamika pergerakan serta dakwah islam kembali menyapa, dan disanalah singkat cerita kembali bergabung dalam sebuah tempat, kastil biru pelangi, Rumah Kepemimpinan PPSDMS Nurul Fikri.

Berada dalam satu tempat dengan beragam jenis manusia selalu menciptakan kisah yang tidak biasa, dan asrama, barangkali adalah ciptakan Tuhan yang sengaja dihadirkan di satu tempat tidak biasa dengan tujuan yang juga istimewa. Serang dan Depok, dua kota, dua asrama yang berbeda, dan disinilah sekarang aku masih berada.

 

 

11794158_10153527836650818_4101116009941652203_o

 

Tetesan tidak pernah berani menuntut lebih, sebab baginya langit sudah tempat tertinggi yang bisa ia raih.

 

60 hari kurang lebih waktu yang tersisa saat tulisan ini sedang dalam proses penyelesaian, waktu yang terlalu singkat untuk ciptakan momen-momen yang hangat, ya, kami sudah tiba di penghujung, sedang menyiapkan segala hal tentang pasca-kampus, berbicara mengenai pekerjaan, mengenai sektor mana yang kelak akan jadi tempat kami bermain dan bertahan.

Tentu ada banyak hal yang telah kami lakukan, terlalu banyak hingga tak lagi penting berapa persis jumlahnya, yang kami semua tahu dan sepakati, setiap hal yang kami lakukan bersama-sama adalah hal-hal paling bermakna. Ada yang bilang bahwa hidup adalah tentang pilihan dan pemaknaan atas tiap pilihan yang kita ambil, asrama ini mengajarkan untuk selalu memaknai tiap pilihan sebagai sebuah proses pembelajaran tanpa akhir.

Masih jelas dalam ingatan momen awal bersatu, dibawah panas terik yang sama kami berlatih baris berbaris, di dalam atap yang sama kami satu-satu menyebutkan nama, asal fakultas, angkatan dan beberapa identitas formal bagai sebuah perkenalan singkat sebuah anggota klub sepakbola yang baru terbentuk.

Memilih satu presiden, sebutan bagi kepala suku yang memimpin gerak kedepan, keluar satu nama, si rambut poni alay Yanis. Ah, masih jelas juga wajah-wajah yang dulu sempat mewarnai, ada Krishna si kamprut yang ceria, satu-satunya partner in crime sempurna yang bisa ngajarin cara ngadepin orang yang lebih tua dengan muka tanpa dosa, Geri, abang yang gue sayangi sepenuh hati, gaya bercanda khas dan ketawa yang gak tahu diri, Badur, ahli komputer yang menurut gue pribadi paling siap menghadapi kejamnya dunia paska kampus, desain yang bertenaga dan penuh makna, Giffari, beruang coklat hidup yang siap memberikan pelukan kapan saja, dibalik segala senyuman menghadapi banyak tantangan dan memiliki mimpi besar yang begitu mengesankan, wawasan luasnya sulit ditandingi oleh ksatria kebanyakan, Pudin, makhluk satu ini terlalu unik untuk hidup berasrama, meski bersama Jati selalu terlihat tergeletak tak berdaya di pembaringan namun diam-diam mengisi pos-pos penting dalam berbagai level organisasi kepanitiaan, Jati, dugong rusia yang hatinya rapuh dan gampang goyah karena melihat cewek cantik, gue rasa Jati perlu menyegerakan, Hegar, kalem, diam-diam menamatkan berbagai game RPG, dan disamping itu dakwah juga jadi laku utama, Bagas, well, yang gue kenal sampe titik ketika berpisah asrama, dia anak baik, hampir gak pernah keliatan lemah, dan selalu berusaha ngasih dan jadi yang terbaik dimanapun dan apapun kondisinya, Haykal, bos besar yang rela jadi “donatur” asrama dengan berbagai sharing fasilitas yang dia punya, terakhir Bagus, si kaku yang diem-diem menikung semua dari kita tepat di belokan terakhir, disaat masa-masa akhir pembinaan tiba-tiba meminta agar dijadikan alumni dini karena harus bertanggung jawab atas perasaan yang terlanjur meluap di dalam hati, iya dia menikah, padahal beberapa waktu sebelumnya kita masih naik gunung Prau bareng dan cerita banyak soal galau-galau alay masa-masa SMP-SMA dulu.

Kalau ditanya apa yang paling istimewa selama berada diasrama, gue akan jawab semua. Iya, semua hal yang ada disini istimewa.

Lebay sih, cuman gimana ya,  dengan segala kisah yang berhasil dicipta, baik-buruk, sedih-senang, berada bersama dalam satu atap dan menjalani hidup, menetap dan saling menjaga agar tidak ada yang redup, pada akhirnya ada gambar besar yang berhasil dilukis bersama, dengan segala kekurangan-kelebihan yang ada.

 

 

IMG_1747

 

Namun awan tahu betul hidup dalam kondisi yang sama, terus-menerus, hanya akan ciptakan kejenuhan, sebab sekadar bersama tanpa makna bukanlah tujuan.

 

Maka hari-hari selanjutnya pernah pula diisi oleh kisah-kisah drama-realita yang sungguh tidak sederhana, pertemuan-perpisahan seolah menjadi kombinasi hangat yang siap menyambut kita dalam beberapa bulan sekali, seolah ritual ini memang sengaja dibentuk demi menempa hati-hati kami.  Lebih lagi, berbagai mimpi bermekaran, tumbuh dan bertaburan, semua mimpi yang dulu hanya terucap di bibir sebagai kata-kata sederhana, banyak darinya yang besar menjadi realita.

Sosok-sosok penuh perjuangan-pengorbanan, merintis kastil biru sejak awal pendirian, berbekal semangat menciptakan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat, rela meninggalkan berbagai hal yang sebetulnya terlihat lebih nikmat.  Ust. Musholi, Bang Bachtiar Firdaus, dan segenap jagoan di jajaran eksekutif pusat-regional yang sungguh dengan teladan mengajarkan arti penting kebermanfaatan, bahwa hidup ini berharga, bahwa mimpi besar harus diwujudkan bersama-sama, bahwa tak ada tujuan lain selain meraih ridho Allah subhanahu wataala.

 

Sampailah kita pada akhir-akhir masa pembinaan, namun jelas visi besar Rumah Kepemimpinan masih akan terus melekat dalam tiap langkah perjuangan, sebab berawal dari sini kita sejatinya telah berkomitmen untuk ditempa, sebab bermula dari sini mimpi besar itu insya Allah perlahan akan menjadi nyata dalam wujud peradaban.

 

 

yang bersyukur pernah hidup berasrama, Ihkam Aufar Zuhairi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s