Mengelola dan menjaga harapan

Syahdan, terkisah perjalanan hidup setiap anak manusia generasi akhir zaman, dimana tiap dari mereka memiliki mimpi masa depan, salah satunya adalah meraih pendidikan paling tinggi di tempat terbaik di negeri ini.

Mereka berkompetisi, sikut kanan-kiri, injak bawah, pukul atas, jegal depan bahkan tak lupa meludah kebelakang. Kompetisi ini sistemik, tak bisa dilawan, tangguh atas berbagai perubahan. “Menguji agar mendapatkan yang terbaik, sebab hanya yang terbaik yang layak dan sanggup bertahan” , winner stand alone, itu kredo mereka. Podium hanya satu, hanya untuk yang nomor satu.

***

Pada tiap kompetisi, perlombaan seringkali di maknai sebagai hakikat sejati, berusaha jadi yang tercepat, terhebat, berusaha jadi roket yang paling melesat.

Maka sungguh, setiap anak dizaman ini dilalap dan kalap oleh kompetisi. Berusaha terus memberikan yang terbaik, menjadi yang terbaik, sampai tiba pada satu titik, 

lupa, 

apa sebetulnya esensi dari tiap laku perbuatan dalam hidup mereka.

***

Dalam tiap perlombaan, ada begitu banyak harapan yang digantungkan. Tertaut di bintang, tergantung diantara laut dan bulan yang terang.

Maka sejenak, atas berbagai kompetisi yang pernah kita lalui, atas berbagai perlombaan yang pernah kita alami, mari sejenak tengok sisi lain yang mungkin sudah lama tidak kita hargai.

Kalah. Menyerah. Marah. 

Dibuang. Ditendang. 

Kecewa, merasa semua sia-sia.

Sudah berapa kekalahan kita dapatkan? 

Sudah berapa banyak kesalahan yang membuat kita seolah kehilangan harapan?

Sudah sampaikah kita di titik persimpangan, merasa bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk menutup buku lalu membuka lembaran baru?

Maka sungguh sahabat, saat dunia serasa tidak berpihak kepadamu, saat diri merasa tak seorang pun di dunia yang dapat mengertimu, saat ketakutan akan masa depan terus menghantui bersamaan dengan rasa sakit akan masa lalu, mari sejenak tengok kembali hatimu. Sudah berapa lama ia lupa kita hidupkan? 

Sudah berapa segmen kehidupan yang luput dari pemaknaan? 

Sudah berapa banyak kesalahan yang terjadi tanpa penyesalan? 

Sudah berapa banyak kebaikan yang terabaikan tanpa kekecewaan?

Sahabat, 

lantas atas semua renungan tadi, semua akan berujung pada satu pertanyaan sederhana, apakah, atau sejauh apa hidup kita dengan Sang Pencipta?

Sebab Dia lah yang sejatinya menciptakan diri ini, 

yang menghidupkan hati, 

yang menganugerahi hela nafas serta denyut jantung setiap hari.

Di depan sana, 

Insya Allah, 

Masih akan terhampar luas padang ketidak pastian, masih akan panjang langkah perjalanan, 

Tentu, kekecewaan, penolakan, kesedihan, dan berbagai badai kehidupan silih berganti akan menyapa, akan mengambil dan memberi berbagai pelajaran yang mungkin tak akan pernah kita duga.

Maka sungguh sahabat, mari terus sediakan ruang di dalam diri kita untuk menerima segala ketetapanNya dengan bijaksana, mari renungi sekali lagi firman Allah SWT yang mulia.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. (Mengapa?) Allah maha mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Albaqarah: 216).

Maka jelas, jangan pernah berhenti berharap kepadaNya, berharap yang terbaik untuk diri kita, untuk orang-orang yang tumbuh bersama kita, untuk semua pihak yang bergerak di jalanNya.

Sebab sekalipun hidup akan terus menawarkan bahagia dan kecewa, 

meski kompetisi akan semakin tak terduga, meski perlombaan akan semakin menggila, meski hidup akan terus menawarkan kata henti dan lari, meski jiwa kadang meradang dan ingin pergi, 

selama kita saling menguatkan, selama kita selalu mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran,

Tak akan ada yang bisa menghentikan kita, sebab bersama Allah swt, kita akan terbang melangit ke angkasa, tak akan pernah berhenti, hingga maut akhirnya menyapa.

Masjid GTA, 23 Ramadhan, 2015
_________

Tepat hari ini di tahun lalu pernah menggoreskan tulisan “sekuat” ini.

Ya Rabb, izinkan serta ridhoi hamba untuk bisa jadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.   💕😇

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s