catatan harian 3 : kita semua punya cerita yang berbeda

ada jeda cukup lama antara tulisan hari ini dengan tulisan terakhir,

sejujurnya sempat ada perasaan, “tuhkan gak konsisten, ngapain sih lagian kurang kerjaan amat”

tapi ketika coba dipikirkan lebih lama dan jernih, “apa salahnya?”

maka sebagai pengantar saya akan coba mengatakan secara terbuka bahwa saya sedang dalam proses perbaikan diri di banyak sisi, contoh sederhananya ya konsistensi dalam tulisan ini, gapapa ya.. hehe..

okay.

jadi kemarin itu, 11 April 2017, saya gak masuk kuliah, alasan terbesarnya adalah ngerasa gak punya motivasi apapun untuk masuk kelas dan alasan lainnya adalah karena telinga juga masih kurang enak (kemarinnya baru dari RSIP Bintaro),

seharian dirumah ternyata bosen juga ya, dan ada semacam renungan sederhana bahwa,

barangkali keluarga ideal juga bukan sebuah keluarga dimana seluruh anggotanya bisa terus-terusan hadir di rumah, bisa berkumpul makan siang, bisa ngobrol panjang-lebar sambil minum teh sore hari, tapi ya pada akhirnya kita harus paham bahwa justru dengan berbagai kesibukan masing-masing, ketika ada momen berkumpul itulah yang harus dirayakan seutuhnya. lagipula, apasih yang ideal di dunia ini? ahaha..

kayak kemarin itu seharian di rumah pun, Abi berangkat kantor dari pagi, Ocid terus pergi sekolah dan terakhir Ummi juga ngaji seharian, Ocid baru pulang (dan bawa temennya) sekitar jam setengah tiga, praktis rumah memang sepi ya hampir seharian, dan itu baru saya rasakan banget kemarin.

sorenya secara random saya menyapa Zha, anak saya di kastrat BEM UI 2015 dulu, katanya dia emang lagi kerja di daerah BSD dan secara jarak dari rumah artinya cuman ditempuh sekitar 15 menit aja (all hail tol BSD yang super mahal).

lebih random karena ngecek film di CGV Blitz dan ada satu judul yang bikin penasaran, Labuan Hati judulnya.

coba buka trailernya, fix pengen!

bayangin aja, Labuan Bajo, Pulau Komodo, dengan secara keindahan sunset, lautan, bukit, dan kapal-kapal kayunya benar-benar secara apik ditampilkan, belum dengan beberapa kalimat “setiap dari mereka punya kisah”, wahaha, sebagai seorang yang sangat terbeli dengan kalimat-kalimat semacam ini, saya pun akhirnya mengajak Zha untuk nonton film, dan dia ternyata lagi bisa.

saya pun coba merapihkan sedikit rencana dengan coba berangkat lebih dulu dan sekalian berencana untuk nge gym di teraskota, sudah lama penasaran sama celfit yang ada disini tapi selalu gak diniatin secara baik dan cuman berakhir dengan rasa penasaran.

jam lima lebih sedikit saya sampai, menaruh tas di loker terus jalan dulu ke bioskop untuk beli tiket, mengingat saya bukan pemilih bangku yang baik, saya selalu takut kalo beliin kursi bioskop karena emang sering fail, ahaha..

semua berjalan sampai dititik akhirnya ketemu sama Zha.

dan disanalah berbagai percakapan bermula,

mulai dari fakta bahwa dia sekarang jadi semacam asisten GM langsung, sibuk kesana-kemari dengan mobil VW nya, waah, baru bertemu setelah sekian lama itu ternyata benar-benar jadi semacam cara yang baik juga untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

yaampun anak ayah udah besar-besar ya sekarang.

dari sekian panjang yang kita habiskan sesorean sampai ditutup dengan makan di pasmod BSD itu, saya mendapatkan banyak banget insight yang menarik.

  1. bahwa saya sudah tidak layak lagi memanggil mereka anak-anakkuh, dan mereka rasanya juga gak pas lagi buat manggil saya ayah, ahaha..
  2. dari film, saya belajar betul bagaimana ada sosok-sosok yang belum berdamai dengan dirinya sendiri, sehingga selalu melihat keluar dan menyalahkan semua yang ada diluarnya, ada quotes keren dari suami Bia, kurang lebih, “ayo pulang.. masalah kamu itu aku, bukan disana.. pulang ya, aku tunggu kamu..”, dititik itu saya ngerasa tersentil.. saya secara sadar ataupun gak sadar dalam beberapa kejadian menghindari, bukan menghadapi, memilih lari dan pergi, memilih menyimpan kecewa dan kesedihan seorang diri dan tidak mau berbagi dengan siapapun, berpura-pura bahwa semua baik-baik saja, bahkan untuk sekadar bercerita dalam doa kepada Tuhan pun kadang saya enggan.
  3. dari film, saya juga akhirnya terpicu kembali untuk mencintai Indonesia dengan lebih dalam, rasanya dulu pernah ada di titik yang ingin keliling Indonesia, menyelam diberbagai spot-spot keren yang mendunia, mendaki puncak-puncak tertinggi, aih, kemana semua itu?  ayolah, mumpung masih muda, mumpung belum ada yang bertanya, “kapan pulang sayang, aku kangen”, heuheu..
  4. dari film, saya sebetulnya sebel adegan-adegan tidak penting baju bikini, ciuman dan lainnya, cuman darisana juga saya dapat sisi lain bahwa ada banyak banget orang yang mungkin memang pada akhirnya hanya mengetahui bahwa itulah satu-satunya jalan yang bisa mereka tempuh kalau mereka berlibur, atau simpelnya untuk mengekspresikan dan mendapatkan bahagia versi mereka, ya mirip sama kalo dulu di waterpark, anak-anak kecil udah dikasih baju bikini sama orangtuanya kan?  akhirnya standar yang mereka pakai dan enjoy ya itu, dan gak ada seorang pun yang berani menegur atau setidaknya bilang, bahwa ada alternatif lain loh yang lebih sopan, pun dengan ekspresi cinta atau kebutuhan akan kasih sayang dari orang lain, karena terbiasa untuk selalu bersentuhan, hal-hal seperti ciuman, meski dengan orang yang baru dikenal, bisa saja jadi sesuatu yang memiliki alasan, sesimpel alasan “terbawa suasana”.
  5. dari Zha, saya dapetin suntikan luar biasa soal bagaimana kekayaan akan jadi suatu hal yang punya dampak nyata, kebaikan berlipat, ketika berada ditangan yang tepat.
  6. dari Zha juga saya belajar bahwa perencanaan dan fokus benar-benar jadi suatu daya tawar yang nyata bagi hubungan yang serius, dan saya rasa adalah konyol kalau saya justru yang awalnya sudah memiliki sekian panjang impian, perencanaan lantas jadi berantakan hanya gara-gara ada unsur perasaan yang sempat lewat disana.
  7. sebenarnya ada banyak, cuman ya segitu dulu ya, semoga saya bisa lebih cepat menulis dan mempublikasikannya, ini juga jadi pelajaran, jeda terlalu lama yang saya buat dari sejak tulisan ini ada di draft sampai keluar itu semata karena saya masih berpikir untuk coba menjadi sempurna, padahal daripada berfokus pada hasil, ada baiknya saya lebih coba membangun proses-proses yang terukur dan berkesinambungan.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s